Infertility / Ketidaksuburan

Home/Artikel/Infertility / Ketidaksuburan

Infertility / Ketidaksuburan

Infertilitas (bahasa Indonesia) atau ketidaksuburan adalah sebuah keadaan medis yang mempengaruhi pasangan yang didefinisikan sebagai kegagalan dari pasangan tersebut untuk hamil setelah 12 bulan menikah dan melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Pada usia wanita diatas 35 tahun, batas waktu lebih pendek menjadi 6 bulan.

Sebelum membahas mengenai ketidaksuburan, maka kita harus mengerti dahulu bagaimanakah kesuburan normal itu. Pada penelitian yang melibatkan 5574 wanita normal tanpa alat kontrasepsi dan berhubungan seks teratur, sekitar 85% hamil setelah 12 bulan. Pada penelitian lain di Eropa menunjukkan angka kehamilan pada wanita usia <35 tahun dan berhubungan seks teratur adalah 38% pada 1 bulan, 68% pada 3 bulan, 81% pada 6 bulan dan 92% pada 12 bulan. Dari data diatas, megakibatkan kita mengambil kesimpulan bahwa kita tidak perlu khawatir apabila belum juga hamil apabila belum 12 bulan, karena sebagian besar akan hamil spontan setelah 12 bulan.

Berapa besarkah kemungkinan terjadinya infertilitas pada wanita?

Usia memberikan kontribusi besar terhadap kemungkinan trjadi infertilitas, dari hasil penelitian didapatkan pada usia 15 hingga 34 tahun antara 7,3 hingga 9,1%, pada usia 35 hingga 39 tahun meningkat drastis menjadi 25%, dan usia 40 hingga 44 tahun sekitar 30%.

Apa penyebab infertilitas? Infertilitas bisa disebabkan oleh faktor wanita maupun fakto laki-laki, sehingga untuk penanganan infertilitas harus dilakukan pemeriksaan kedua belah pihak. Kemungkinan penyebab dari faktor laki-laki sekitar 26%, faktor indung telur (ovarium) wanita 21%, faktor kerusakan tuba (saluran dari indung telur ke rahim) 14%, endometriosis 6%, masalah hubungan seks 6%, masalah leher rahim pada wanita 3% dan 28% masih tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Penanganan kasus infertilitas tergantung dari penyebabnya, untuk pertama kali harus dilakukan evaluasi meliputi analisa sperma dari pria, pemeriksaan fisik dan ultrasonografi panggul untuk melihat adanya kista, myom atau tumor lain yang mungkin mengambat kehamilan, hingga melakukan laparoskopi untuk melihat adanya endometriosis, kelainan panggul yang mengakibatkan tuba falopii buntu, perlekatan yang mengakibatkan tuba tidak bisa bergerak bebas mendekati ovarium, perlekatan fimbrie (bentukan seperti tangan pada ujung tuba untuk menangkap sel telur), adanya tumor lain yang menyulitkan ovulasi, dan sekaligus melakukan koreksi melalui laparoskopi apabila memungkinkan.

Penanganan infertilitas lebih lanjut, tergantung hasil pemeriksaan awal, ultrasonografi dan laparoskopi. Misalnya apabila didapatkan dari hasil laparoskopi tuba kanan dan kiri buntu dan tidak bisa dikoreksi, maka sudah tidak mungkin dilakukan inseminasi, pilihan utama adalah bayi tabung.

By | 2017-06-02T17:54:27+00:00 September 13th, 2016|Artikel|469 Comments

About the Author: