Minimally Invasive Surgery

Home/Artikel/Minimally Invasive Surgery

Minimally Invasive Surgery

Minimally Invasive Surgery adalah sebuah tehnik pembedahan yang membatasi ukuran dari irisan yang dilakukan ke pasien. Metode minimally invasive ini tidak hanya terdapat di bidang kebidanan dan kandungan, tetapi di seluruh ilmu kedokteran. Mungkin yang paling sering kita dengar adalah metode kateterisasi pada pembuluh darah koroner yang menyempit, pada masa lalu, metode pelebaran pembuluh darah ini harus dilakukan dengan membuka rongga abdomen dengan irisan lebar, tetapi saat ini bisa dilakukan hanya dengan irisan kecil di paha, kemudian memasukkan alat melalui pembuluh darah hingga sampai di pembuluh darah jantung dan dapat melakukan intervensi seperti layaknya operasi klasik. Hal ini mengurangi keluhan, lama penyembuhan luka, kembalinya pasien beraktivitas dan keluhan-keluhan lain berkaitan dengan irisan yang besar pada pasien.

Di bidang kandungan, operasi yang sering dilakukan adalah operasi pengangkatan myoma uteri, kista ovarium, ovarium, sampai pengangkatan rahim atas berbagai macam indikasi. Operasi ini pada pendekatan cara klasik adalah dengan melakukan irisan besar pada perut pasien, besarnya irisan berhubungan dengan organ yang akan diakses, misalnya akan mengangkat myoma uteri dengan ukuran 15 cm, maka minimal irisan yang kita lakukan sebesar 15 cm. Besarnya irisan juga sering dipengaruhi oleh organ yang akan kita lakukan operasi, karena pada operasi klasik, paparan (yang bisa dilihat) dokter yang melakukan operasi sangat bergantung dengan seberapa besar irisan yang dilakukan. Semakin besar maka semakin baik visualisasi dokter untuk melakukan tindakan.

Pada minimally invasive surgery, dokter akan melakukan manipulasi sekecil mungkin terhadap organ yang ada, sebisa mungkin tidak melukai organ hanya untuk mendapatkan akses ke area yang akan kita operasi. Operasi klasik di atas, dengan minimally invasive surgery (dalam hal ini laparoskopi) dapat meminimalisasi luka di perut yang kita buat demi akses ke lapangan operasi. Pada operasi laparoskopi, irisan yang kita buat hanya sekitar 0,5-2cm pada dinding perut untuk memasukkan kamera dan manipulator alat. Hal ini dapat meminimalisasi luka di perut tanpa mengorbankan akses dan visualiasi ahli bedah ke area yang akan dilakukan operasi.

Keluhan dan komplikasi yang timbul pasca operasi sebagian besar berhubungan dengan besarnya luka di dinding perut. Dengan meminimalisasi luka operasi di kulit, maka keluhan pasca operasi, nyeri pasca operasi, lamanya tirah baring pasca operasi, penggunaan obat antinyeri hingga jumlah hari tidak produktif pasca operasi untuk kembali bekerja dapat dikurangi.

Di bidang kandungan, minimally invasive surgery tidak hanya laparoskopi, tetapi ada juga histeroskopi, dimana kita memanipulasi rongga dalam rahim menggunakan kamera dan alat, bahkan tanpa melakukan irisan apapun di rongga perut.

By | 2016-09-20T17:44:56+00:00 September 17th, 2016|Artikel|Comments Off on Minimally Invasive Surgery

About the Author: